Tag Archives: toko kosmetik

Kosmetika Yang Anda Pakai, Berbahayakah

Pada beberapa hari terakhir muncul berita di beberapa media masa, baik media cetak maupun media elektronik penarikan dari peredaran beberapa produk kosmetika oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan. Tak terkecuali dari merek yang ‘mahal’ hingga merek yang murah.

Fenomena tersebut cukup menarik untuk ditanggapi, baik dari sudut pandang masyarakat umum yang notabene adalah pengguna produk kosmetika, maupun para dokter yang akhir-akhir ini juga marak memberikan layanan perawatan kulit. Produk kosmesetikal (kosmetik obat), istilah yang dipakai untuk menyatakan bahan obat yang dikemas dan digunakan sebagai kosmetika perawatan banyak diresepkan oleh dokter untuk pasiennya.

“Mengapa sih harus dilarang?”, “Apa sih bahayanya asam retinoat, hidrokinon, merkuri, timbal, dll pada kosmetika?” adalah contoh pertanyaan yang mungkin akan banyak muncul pada para pengguna. Sementara di antara para dokter, bunyi pertanyaan akan sedikit berbeda. Misalnya …. “Bukankah itu bahan bahan yang ‘dalam kontrol kita’ relatif aman dan bermanfaat?”

Lantas di mana sih letak kesalahannya?

Apakah kosmetika itu? Dan bagaimana perkembangan batasan pengertiannya?

The European Cosmetic Directive (TECD) memberi batasan kosmetika sebagai segala bahan atau sediaan yang dipakai langsung pada bagian luar tubuh (kulit,rambut, kuku, bibir dan organ genital eksternal) gigi dan selaput lendir mulut, dengan tujuan utamanya untuk membersihkan, mengharumkan, merubah penampilan dan/atau menghilangkan bau badan dan/atau melindungi atau mempertahankannya dalam kondisi yang baik.

Sementara sedikit berbeda, FDCA (Federal Food, Drug, and Cosmetic Act) memberikan batasan kosmetik adalah bahan yang dioleskan, ditaburkan, disemprotkan atau dipakai pada tubuh atau bagian tubuh untuk membersihkan, mempercantik, meningkatkan daya tarik atau merubah penampilan. Batasan ini sebenarnya merupakan revisi dari batasan yang dikeluarkan oleh FDA pada era tahun 1980an. Pada era tersebut batasan FDA masih hampir sama dengan batasan yang dipakai oleh TECD.

Merujuk pada konsep FDCA ( yang rupanya banyak mempengaruhi kebijakan para produsen produk kosmetika ) tersebut, maka memungkinkan untuk memasukkan (memakai) ‘produk kosmetika’ ke dalam tubuh. Selanjutnya batasan itu mengundang penggunaan bahan-bahan yang semula di kategorikan sebagai obat ke dalam ‘produk kosmetika’. Sebagai contoh, aminofilin yang semula dipakai untuk obat asma sekarang ditampilkan dalam krim anti selulit.

Asam retinoat dan berbagai obat anti jerawat kemudian dipakai untuk kosmetika/kosmesetika peremajaan kulit (mengurangi keriput dan mencerahkan kulit), demikian pula yang terjadi dengan toksin Botulinum (R/Botox) yang semula dipakai untuk gangguan gerak dan distonia otot dipergunakan untuk mengurangi keriput di wajah.[break]

Mengapa harus dilarang?

Satu catatan harus bersama-sama dipahami oleh masyarakat sebagai pengguna jasa, para dokter yang mengambil keputusan untuk penggunaan suatu obat, dan barangkali juga para pembuat kebijakan yang dalam masalah ini adalah Badan Pengawasan Obat dan Makanan, bahwa:

1. ‘Kosmetika’ dalam batasannya mengandung pula artian bisa di perjualbelikan secara bebas.

2. ‘Obat’ yang dipergunakan pada produk kosmetika/kosmesetika seperti asam retinoat, mempunyai dayaguna yang jelas, indikasi yang jelas dan telah jelas diketahui efek sampingnya.

3. ‘Obat’ semestinya diberikan kepada pengguna dengan resep dokter melalui apotek, bukan tanpa kontrol.

4. Sosialisasi ke masyarakat juga perlu bahwa atas pertimbangan seorang dokter, penggunaan asam retinoat, Botox dll., tidak dilarang dengan indikasi dan dosis yang benar. Artinya, bahwa bahan obat tersebut masih merupakan obat yang bermanfaat di tangan orang yang kompeten untuk memberikannya (dokter).

Mengapa sampai produk-produk tersebut dijual di pasaran bebas Indonesia?

Pada dasarnya, produk kosmetika yang dilabel untuk perawatan, khususnya di Asia dan Afrika termasuk Indonesia, yang bertujuan bleaching/memutihkan, meremajakan dan seterusnya, sangat diminati di masyarakat. Semua ingin tampak cantik pada jaman ini kan? Orang pak Ustadz saja, kalo akan tampil di TV wajah juga harus di poles. Sehingga produk-produk tersebut pada th 2001 Annual Growth nya mencapai 60%, suatu angka yang selalu bikin para pengusaha ngiler.

Pada produk yang berijin, tentunya regulasi produksi, distribusi dan monitoring yang di terapkan oleh pemerintah harus lebih jelas dan tentu saja sosialisasi kebijakan pemerintah harus di optimalkan ke semua pihak. Terhadap produk yang tidak berijin tentunya ‘pembinaan’ yang lebih konstruktif perlu dilakukan.

Bagaimana masyarakat pengguna harus bersikap?

Kiranya perlu penulis sampaikan sedikit saran bagi pembaca terkait penarikan beberapa produk kosmetika tersebut.

1. Langkah Badan POM tersebut harus diartikan sebagai upaya pemerintah untuk melindungi masyarakat dari efek samping kosmetika, karena adanya bahan berbahaya (misalnya: merkuri dan timbal) yang sering terdapat pada berbagai produk kosmetik yang tidak terdaftar dan dijual bebas di pasaran.

2. Bahwa bahan obat seperti asam retinoat (asam vitamin A) adalah bahan obat yang bermanfaat untuk pengobatan jerawat maupun berbagai produk perawatan kulit yang lain. Tentunya harus dipahami bersama bahwa sebagai obat seharusnya hanya bisa diperoleh melalui resep dokter.

3. Bagi para dokter juga tidak perlu ragu untuk menggunakan produk-produk tersebut bagi pasiennya dengan prosedur yang benar.

Untuk sekedar pengetahuan bagi pembaca tentang status asam retinoat misalnya, pembaca dapat akses langsung ke US –FDA (US- Food and Drug Administration) Center for Drugs evaluation and Research tentang persetujuan (approval) pemakaian dan pemasaran produk tretinoin atau asam retinoat melalui alamat www.accessdata.fda.gov.

Semoga penjelasan singkat ini dapat bermanfaat bagi para pembaca baik pengguna produk maupun para dokter yang perlu untuk menggunakan obat-obatan tersebut bagi pasiennya.

Sumber:

dr. Sunardi Radiono SpKK (K)

Staf Pengajar di bagian Kesehatan Kulit dan Kelamin
Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada